Tradisi Mistik Islam
Kejawen Masyarakat Jawa
I.
PENDAHULUAN
Apakah kejawen itu? Apakah sebuah agama, budaya, aliran kebatinan, atau yang
lainnya? Kejawen merupakan bagian yang tidak terpisah dari tradisi Jawa.
Kepercayaan kejawen atau mungkin boleh dikatakan agama yang terutama dianut di
pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa yang menetap di Jawa. Ada anggapan
bahwa kejawen adalah agama jawi (agama orang jawa). Tapi ternyata terdapat
akulturasi budaya jawa dengan nilai-nilai islam, sehingga muncul aliran islam
kejawen. Namun sesat atau bid’ah aliran islam kejawen itu, tetap dalam praktik
sehari-hari banyak sekali umat islam di jawa khususnya bagian tengah selatan
ataupun keturunan jawa yang masih mengikuti tradisi kejawen seperti slametan,
sesajen, laku puasa, dan lain-lain.
Kejawen mewakili pandangan dan praktik spiritual, yang biasanya memiliki
kesamaan, terutama dalam bahasa pengantar, yaitu bahasa Jawa, dan penggunaan
simbol-simbol yang berkaitan dengan tradisi masyarakat Jawa, seperti keris,
wayang, gamelan, pembacaan mantra, sesajen dan lain-lain. Kesamaan lain dalam
konsep Kejawen adalah keyakinan terhadap ke-esa-an Sang Pencipta dan nilai
keseimbangan hidup serta keluhuran budi yang menjadi dasar dan tujuan dari dari
ajaran kejawen tersebut.
Meski masyarakat jawa dalam tradisi kesehariannya tidak bisa jauh dari praktik
kejawen, namun mereka banyak yang belum memahami makna dari istilah kejawen itu
sendiri. Muncul banyak pandangan dan tanggapan yang kurang tepat mengenai
mistik kejawen di kalangan masyarakat jawa. Maka dari itu saya mengambil judul
tentang “Tradisi
Mistik Islam Kejawen Masyarakat Jawa”.
II.
PEMBAHASAN
a.
Definisi Kejawen
Kejawen merupakan bagian dari agama lokal Indonesia. Disimpulkan bahwa kejawen
merupakan laku spiritual mengenai pandangan hidup atau falsafah hidup jawa,
atau jawaisme (javanism).
Dalam laku spiritual jawa perilaku didasari oleh cinta kasih sayang dan
pengalaman yang nyata. Maka, bagi siapa yang menghayati falsafah hidup jawa
namun masih mudah terbawa emosi, murka, reaktif, dan primodialisme, maka ia
belum memahami secara baik nilai-nilai dalam falsafah hidup kejawen. Mistik
kejawen salah satu bagian dari ribuan mistik yang terdapat di dunia. Sebagai
contoh, mistik Islam yang dikenal dengan tradisi tasawuf dan orang-orang yang
mendalaminya disebut zuhud dan sufi, mistik Budhha atau yang dikenal dengan
Buddhisme, mistik Hindu atau yang dikenal Hinduisme, dan masih banyak lagi
mistik lainnya di dunia.
Bagaimana dengan kejawen? Kaum kejawen memiliki tradisi asli. Tradisi
tersebut berupa pemujaan kekuatan adikodrati yang diwujudkan dalam ritual slametan.
Walaupun rumit mistik kejawen tetap terjaga. Kejawen dapat dikatakan gejala
realigi yang unik. Keunikannya terletak pada ngelmu titen yang
berlangsung turun-menurun. Kitab kejawen
adalah hidup itu sendiri, sedangkan hadits pelaksanaan
tradisi kejawen menggunakan slametan. Misalnya, slametan untuk memperingati kelahiran,
slametan untuk upacara perkawinan, slametan untuk memperingati kematian
seseorang, slametan untuk menolak sihir, slametan untuk pindahan rumah,
slametan untuk melawan mimpi buruk agar tidak menjadi nyata, slametan sebagai
wujud syukur atas hasil panen, slametan untuk mengganti nama, slametan untuk
memohon kepada arwah, slametan apabila seorang anak kecil atau balita tidak
sengaja memakan kotorannya sendiri, dan lain-lain. Jadi, slametan merupakan
inti tradisi kejawen yang menjadi wahana mistik. Untuk beberapa tujuan itulah,
slametan sudah menjadi hal yang biasa dilakukan secara terus menerus oleh
masyarakan jawa. Melalui slametan, ritual mistik mendapatan jalan lurus menuju
sasaran yakni Tuhan.
b.
Ajaran Kebatinan Kejawen
Kebatinan kejawen merupakan kepercayaan orang Jawa terhadap Tuhan tradisi dan
warisan budaya leluhur sejak jaman kerajaan purba, sebelum hadirnya agama-agama
di pulau Jawa, yang pada prakteknya, selain berisi ajaran-ajaran budi pekerti,
diwarnai ritual-ritual kepercayaan dan ritual-ritual yang berbau mistik.
Mereka terbiasa hidup sederhana dari apapun yang mereka miliki.
Mereka percaya adanya 'berkah' dari roh-roh, alam dan Tuhan, dan kehidupan mereka akan lebih baik bila mereka 'keberkahan'. Karena itu dalam budaya Jawa dikenal adanya upaya untuk selalu menjaga perilaku, kebersihan hati dan batin dan ditambah dengan laku prihatin dan tirakat supaya hidup mereka diberkahi.
Mereka percaya adanya 'berkah' dari roh-roh, alam dan Tuhan, dan kehidupan mereka akan lebih baik bila mereka 'keberkahan'. Karena itu dalam budaya Jawa dikenal adanya upaya untuk selalu menjaga perilaku, kebersihan hati dan batin dan ditambah dengan laku prihatin dan tirakat supaya hidup mereka diberkahi.
c.
Kegiatan religius orang Jawa Kejawen
Seorang penghayat kejawen melakukan puasa dan laku prihatin dengan hitungan
hari tertentu yang disesuaikan dengan kalender jawa, misalnya puasa senin-kamis,
wetonan, selasa kliwon, jum'at kliwon, dsb. Tradisi jawa, laku prihatin dan
tirakat merupakan bentuk upaya spiritual atau kerohanian seseorang dalam bentuk
keprihatinan jiwa dan raga, ditambah dengan laku-laku tertentu.
Diawali dengan :
§ Mandi keramas / bersuci.
§ Menyajikan sesaji sesuai yang diajarkan dan
memanjatkan doa tentang niat dan tujuannya melakukan laku tersebut.
§ Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan jahat
dan tercela.
§ Ada juga yang melakukannya bersama dengan laku
berziarah, atau tapa brata, di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti di
gunung, makam leluhur, hutan / goa / bangunan yang dipuja, dsb.
Bentuk tradisi mistik laku prihatin dan tirakat yang
sering dilakukan masyarakat jawa :
1. Puasa, tidak
makan dan minum atau berpantangan makanan tertentu.
§ Puasa Senin-Kamis,
puasa tidak makan / minum setiap hari Senin dan Kamis.
§ Puasa Weton,
puasa tidak makan / minum setiap hari weton (hari pasaran) kelahiran seseorang.
§ Puasa tidak makan
apa-apa, boleh minum hanya air putih.
§ Puasa Mutih, tidak
makan apa-apa kecuali nasi putih dan air putih.
§ Puasa Mutih Ngepel,
dari pagi sampai mahgrib tidak makan / minum, untuk sahur dan buka puasa hanya
1 kepal nasi dan 1 gelas air putih.
§ Puasa Ngepel,
dalam sehari hanya makan satu atau beberapa kepal nasi.
§ Puasa Ngeruh,
hanya makan sayuran / buah-buahan, tidak makan daging, ikan, telur, terasi,
dsb.
§ Puasa Nganyep,
hampir sama dengan Mutih, tetapi makanannya lebih beragam asalkan tidak
mempunyai rasa, yaitu tidak memakai bumbu pemanis, cabai dan garam.
§ Puasa Ngrowot,
dilakukan dari subuh sampai maghrib. Saat sahur dan buka puasa hanya makan
buah-buahan dan umbi-umbian yang sejenis, maksimal 3 buah.
§ Puasa Ngebleng,
tidak makan dan minum selama sehari penuh siang dan malam,
atau beberapa hari siang dan malam tanpa putus, biasanya 1 - 3
hari.
2. Menyepi dan berdoa di makam leluhur, dan di tempat-tempat yang dianggap keramat, tidak mendatangi tempat keramaian dan
2. Menyepi dan berdoa di makam leluhur, dan di tempat-tempat yang dianggap keramat, tidak mendatangi tempat keramaian dan
3. Menyepi dan berdoa
di dalam rumah. Tidak mendatangi tempat keramaian dan tidak menonton
hiburan.
4. Mandi kembang
telon atau kembang setaman tujuh rupa.
5. Berziarah dan berdoa
di makam leluhur, dan di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti di
gunung, pohon / goa / bangunan yang dipuja, dsb.
6. Tapa Melek Ngalong,
biasanya 1 - 7 hari. Siang hari boleh tidur, tetapi selama malam hari tidak
tidur, tidak mendatangi tempat keramaian dan tidak menonton hiburan.
7. Tapa Melek,
tidak tidur, biasanya 1 - 3 hari. Tidak mendatangi tempat keramaian dan tidak
menonton hiburan.
8. Tapa Bisu dan Lelono,
melakukan perjalanan berjalan kaki dan bisu tidak bicara, dari mahgrib sampai
pagi, melakukan kunjungan ke makam leluhur atau ke tempat-tempat keramat dan
berdoa.
9. Tapa Pati Geni,
diam di dalam suatu ruangan, tidak terkena cahaya apapun, selama sehari atau
beberapa hari, biasanya untuk tujuan keilmuan. Ada juga yang disebut Tapa
Pendem, yaitu puasa dan berdiam di dalam rongga di dalam tanah seperti orang
yang di makamkan, biasanya selama 1 - 3 hari.
10. Tapa Kungkum,
ritual berendam di sendang atau sungai, terutama di pertemuan 2 sungai, selama
beberapa malam berturut-turut dan tidak boleh tertidur, dengan posisi berdiri
atau duduk bersila di dalam air dengan kedalaman air setinggi leher atau
pundak.
#Laku prihatin dan
tirakat nomor 1 sampai 5 biasa dilakukan orang Jawa dalam kehidupan
sehari-hari.
#laku prihatin dan
tirakat kombinasi nomor 1 sampai 10 dilakukan untuk terkabulnya suatu keinginan
tertentu yang bersifat khusus, biasanya supaya mendapatkan berkah tertentu,
atau untuk tujuan keilmuan.
Masyarakat jawa umumnya seringkali melakukannya juga sebelum seseorang
melakukan suatu kegiatan atau usaha, seperti memulai suatu usaha ekonomi, akan
pergi merantau, akan hajatan nikahan, dsb. Bahkan sudah biasa orang-orang tua
berpuasa untuk memohonkan keberhasilan kehidupan dan usaha anak-anaknya.
Laku puasa, prihatin dan tirakat berdasarkan tradisi jawa tersebut akan berbeda
dengan laku yang dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan laku tertentu
dalam rangka memenuhi kewajiban keagamaan atau yang mempelajari suatu bentuk
keilmuan gaib / khodam.
Apakah Laku Prihatin
dan Tirakat masih Relevan?
Jaman modern saat ini banyak orang yang memaksakan sikap berpikirnya untuk
tidak percaya dengan hal-hal yang bersifat mistis. Mereka tidak percaya karena
itu adalah kuno, kehidupan masa lalu, dan tidak masuk akal. Tetapi banyak juga
orang yang berpandangan lain, karena hal-hal atau kejadian-kejadian gaib pun
masih terjadi hingga hari ini, sehingga masih saja ada orang yang melakukan
usaha dengan cara-cara yang berbau mistis dan masih banyak juga yang melakukan
perbuatan licik.
Walaupun jaman sekarang kondisinya sangat berbeda dengan jaman dahulu, tetapi
proses tradisi masyarakat tetap dilakukan orang, hanya saja bentuk lakunya yang
berbeda. Laku prihatin untuk menahan diri, tidak sombong, beribadah, berdoa dan
berusaha, tidak malas, menjauhi perbuatan dosa, menjauhi kebiasaan yang buruk,
hidup sederhana dan menabung, mensyukuri apa yang dimiliki, menjaga hubungan
yang harmonis dengan sesama, dsb, dilakukan oleh hampir semua orang.
d.
Islam Jawa Bukan Penyimpangan
Islam jawa bukan
merupakan varian islam yang terdapat di Indonesia. Tradisi budaya islam
kejawen misalnya wayang, sekarang masih kurang diminati oleh remaja di Jawa
khususnya, karena dianggap membosankan, dan kadang kurang dimengerti bahasa
yang digunakan dalam pementasan wayang, sehingga wayang di kalahkan dengan
dangdut atau musik pop kesukaan premaja sekarang. Namun, kita masih bisa
menemukan wayang misalnya di daerah istimewa Yogyakarta. Karena disana masih
ada tradisi yang menampilkan wayang. Tapi sekarang wayang tidak hanya ada di
daerah jawa saja, daerah lainpun ada yang mempunyai tradisi wayang.
Kejawen dapat diungkapkan dengan baik oleh
mereka yang mengerti tentang rahasia kebudayaan Jawa, dan bahwa kejawen ini
sering sekali diwakili yang paling baik oleh golongan elite priyayi lama dan
keturunan-keturunannya yang menegaskan bahwa kesadaran akan budaya sendiri
merupakan hal yang tersebar luas dikalangan orang Jawa. Kesadaran akan budaya
ini bisa menjadi sumber kebanggaan dan identitas kultural. Orang-orang inilah
yang memelihara warisan budaya Jawa secara mendalam sebagai kejawen.
Yang membedakan kejawen dengan agama, ajaran, atau mistik-mistik lainnya :
1. Kejawen tidak mempunyai kitab
suci seperti agama lainnya. Tetapi orang Jawa memiliki bahasa sandi yang di dalamnya tanpa mengalami
perubahan sedikit pun karena memiliki pakem (aturan yang dijaga ketat),
yaitu Tata Krama (aturan hidup yang luhur) untuk membentuk orang jawa yang hanjawani
(memiliki akhlak terpuji), hal tersebut banyak terdapat dalam karya tulis
sebagai berikut :
· Kakawin
(Sastra Kuno)
· Babad
(Sejarah-Sejarah)
· Serat (Sastra
Baru)
· Suluk (Jalan
Sepiritual)
· Kidungan (Do'a-Do'a)
· Primbon
(Ramalan-Ramalan)
· Piwulang
Kautaman (Ajaran Utama).
2. Kejawen merupakan hasil dari
interaksi nilai-nilai kearifan lokal. Sikap terbuka, menghargai, dan toleransi,
serta dasar spiritual cinta kasih sayang membuat kejawen mudah menerima hal
asing yang positif.
3. Meskipun latar agama
masyarakat jawa berbeda, tetapi mereka memiliki unsur kesamaan tata cara
laksana ritual Jawaisme. Perbedaan hanya terletak pada bahasa dalam doa atau
mantra.
4. Mantra dan Sesajen dalam
Kejawen
· Mantra
Mantra ayat yang dibaca untuk melakukan sihir, yaitu
melakukan sesuatu secara kebatinan, seperti menundukan musuh, melemahkan musuh,
atau memikat wanita. Dalam kejawen, ada 2 jenis mantra. Pertama, mantra khusus
fungsinya untuk menaklukan musuh, atau sebagai alat medis sebagai mantra untuk
penyembuhan. Kedua,
mantra khusus menurut sifatnya dibedakan menjadi dua. Jenis pertama mantra
yang dapat bekerja jika digunakan untuk hal-hal baik dan tidak dapat disalah
gunakan oleh hal-hal buruk. Biasanya sering digunakam dilingkungan keraton
turun-temurun. Jenis kedua mantra bersifat umum. Digunakan untuk acara
kerperluan apa saja tergantung si pemilik. Namun, jenis ini setiap penggunaan
memiliki konsekuensinya berupa karma atau hukuman Tuhan yang dirasakan langsung
atau kelak setelah ajal.
· Sesajen
Dalam kejawen maksud sesaji sebenarnya merupakan
harmonisasi manusia terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Jadi, di dalam
ritual, banyak terdapat uba rampe atau syarat
sesaji yang didalamnya banyak sekali mengandung maksud permohonan kepada Tuhan.
Sesaji juga merupakan symbol dalam berdoa. Misalnya tumpeng nasi putih
berbentuk kerucut yang besar dibagian bawah dan runcing dibagian atas. Kemudian
bubur merah dan bubur putih yang digunakan dalam bancakan weton melambangkan
ibu dan bapak. Yang memiliki arti hubungan ibu dan bapak yang diikat dengan
tali cinta hingga membuahkan anak, yang dilambangkan bubur baro-baro, yakni
bubur putih ditumpangi parutan kelapa dan gula merah.
5. Hubungan Kejawen Tentang Alam
Cara-cara yang dilakukan
setan untuk menghalang makhluk dibumi masuk surga, antara lain lewat pesugihan,
jimat/cekelan, santet, dan pusaka.
· Pesugihan
Pesugihan sangat beragam seperti, pesugihan tuyul,
raksasa buto ijo, babi ngepet, dan siluman ular. Setiap pesugihan mempunyai
konsekuensi sendiri-sendiri dan ada perjanjian dengan wujud atau bentuk
pesugihan yang wajib dipenuhi si pencari pesugihan tersebut. Sebelum para
pelaku pesugihan melakukan prosesi laku tirakat, mereka harus mengucapkan janji
terlebih dahulu. Jika mereka melanggar janji, maka taruhannya adalah nyawa
mereka sendiri.
· Santet
Menurut kejawen, santet adalah gangguan pada tubuh
manusia yang dilakukan oleh setan atas perintah manusia yang lain, karenakan
dendam, iri, dengki, persaingan antara manusia, dan lain-lain. Santet bentuknya
bervariatif kebanyakan berupa penyakit fisik, dari yang sangat kasar sampai
yang sangat halus sehingga si korban tidak akan menyadari bahwa dirinya telah
terkena santet bahkan hingga berpuluh tahun lamanya.
· Jimat
(Cekelan)
Jimat merupakan suatu benda yang dipelihara manusia untuk
tujuan tertentu. Dapat berupa berbagai bentuk seperti, kertas dengan dituliskan
huruf tertentu, uang koin, akik, gelang, sampai jimat yang ditanam atau
dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Seseorang yang memiliki jimat berarti ia
telah memiliki perjanjian dengan setan. Gangguan yang dapat ditimbulkan si
pemilik jimat tidak hanya setelah meninggal dunia, tetapi pada saat hidup dapat
berupa penyakit.
· Pusaka
Pusaka hampir sama dengan jimat, bedanya pusaka tidak
dibawa setiap saat tetapi disimpan di rumah atau suatu tempat. Pada pusaka yang
buruk pasti akan mengganggu pemiliknya, seperti dengan penyakit. Jika pusaka
tersebut pusaka yang baik, walaupun tidak pernah dirawat, ia tidak akan
menggangu si pemiliknya.
Ada tradisi kejawen yang diperbolehkan dalam agama dan terdapat pula
dalam Hadist Bukhori. Pada saat adzan Maghrib, anak-anak disuruh untuk
masuk ke dalam rumah dan diajak ke Mushola karena pada saat Maghrib setan dan
iblis berkeliaran. Namun, ada juga tradisi seperti mencegah bala, arung laut
yang oleh masyarakat penganut kejawen dicampur dengan bacaan Shalawat Nabi,
Surat Yasin dan Tahlil. “Sebetulnya Salawat Nabi, bacaan surat Yasin, dan
Tahlilnya tidak menjadi soal, namun jika semua itu dicampur adukan ke dalam
ritual kejawen seperti memberi sesajen menjadi tidak sah,
sebab semua itu dipersembahkan untuk yang lain (selain Allah)”.
Masalah kejawen dan segala ritualnya yang telah membudaya harus disikapi dengan
lembut dan bijak, karena kondisi ini telah mengakar dan menjadi tradisi
turun-temurun. Menasehati keluarga dan orang-orang terdekat dengan cara yang
baik. Ini masalah sensitif, penyampaiannya tidak bisa dengan frontal, harus
pelan-pelan karena banyak resikonya maka kita juga harus bersikap hikmah.
III.
KESIMPULAN
Kita ketahui mistik merupakan hal gaib yang ada dan nyata. Dari mistik muncullah paham mistisisme, yang merupakan paham yang memberikan ajaran mistis. Jawa tetap unggul
memerankan makna mitos dalam kehidupannya dibandingkan dengan islam santri.
Terbukti perayaan hari-hari besar islam pun sudah sarat dengan pesan-pesan
mitologis yang berbau jawa dan menguntungkan pada warisan jawa.
Mistik jawa dalam islam kebatinan
yaitu mistik yang dilakukan seseorang untuk bisa berhubungan dan berkomunikasi
dengan Allah SWT. yang dilakukan dengan cara tertentu sesuai dengan tradisi
jawa tujuan utamanya adalah bisa berkomunikasi dan mencapai posisi tertentu di sisi Allah SWT.
Laku spiritual berfungsi untuk
mencapai maksud, tujuan atau cita-cita. Masyarakat Jawa berkultur mistik religius,
yang merupakan akulturasi konsep-konsep Hinduisme, Budhisme, dan
animisme-dinamisme yang lebih dulu berkembang.
IV.
DAFTAR PUSTAKA
Geertz, Clifford. 1981. Abangan; Santri Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.
Endraswara, Suwardi. 2006. Mistik Kejawen;
Sikretisme, Simbolisme, dan Sifisme dalam. Budaya Spiritual Jawa. Yogyakarta:
Narasi.
Su’udi, Ahmad. 2009. Bersama Allah Meraih
Takdir Baik. Jakarta: Qultum Media.
Abimanyu, Petir. 2014. Mistik Kejawen;
Menguak Rahasia Hidup Orang Jawa. Yogyakarta: Palapa.
M.C., Wahyana Giri. 2009. Sajen dan Ritual
Orang Jawa. Yogyakarta: Narasi.
Timoer, Soenarto. 1993. Nilai Keterbukaan
Budaya Tradisional Jawa dalam Jurnal Menggali Filsafat dan Budaya Jawa. Surabaya:
Lembaga Javanologi.
Zaairul Haq, Muhammad. 2011. Mutiara Hidup
Manusia Jawa; Menggali Butir-Butir Ajaran Lokal Jawa Untuk Menuju Kearifan
Hidup Dunia Dan Akhirat. Aditya Media Pub.
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah
Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan