Sabtu, 30 September 2017

KOMUNIKASI BISNIS - BENTUK KOMUNIKASI BISNIS





Nama : Meiriza Alviyany // NPM : 16214550 // Kelas : 4EA26



Tugas 1

Bentuk Komunikasi Bisnis

Komunikasi Bisnis merupakan komunikasi yang digunakan untuk membangun hubungan antar perusahaan dalam dunia bisnis. Hal ini dilakukan agar saling mempromosikan atau mempresentasikan suatu nilai produk atau jasa yang dimiliki oleh perusahaan kepada pihak buyer maupun perusahaan lain yang hendak melakukan kerjsama dengan perusahaan yang terkait. Komunikasi bisnis ini yang pada umumnya digunakan oleh para promotor atau public relation suatu perusahaan kepada perusahaan lain atau buyer.


Bentuk Bentuk Komunikasi Bisnis

Dalam dunia bisnis, komunikasi bisnis memiliki dua bentuk yang lazim yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam berkomunikasi. Dua bentuk ini yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Berikut ini penjelasannya.


A. Komunikasi Verbal

Diambil dari kata dasarnya yaitu ‘verbal’, komunikasi verbal ini menggunakan satu kata atau lebih. Dalam dunia bisnis, bentuk komunikasi verbal ini digunakan baik secara tertulis maupun secara lisan dengan struktur dan terorganisasi dengan baik dalam menyampaikan pesan atau informasi kepada komunikan atau penerima pesan.(Baca juga.Dalam dunia bisnis, umumnya bentuk komunikasi verbal ini digunakan ketika sedang rapat, seminar, atau yang lainnya yang berhubungan dengan operasional perusahaan. Namun, kekurangan dari komunikasi verbal jika tidak dikuasai dengan baik maka akan timbul berbagai hal yang di antaranya:

1. Keterbatasan Kata

Biasanya beberapa hal seperti benda, orang, atau sesuatu hal lain yang belum bisa disampaikan dengan menggunakan kata atau bahasa verbal. Sehingga komunikasi verbal pun tidak berjalan dengan baik dan lancar.

2. Kata Ambigu

Setiap individu memiliki pemikiran masing-masing. Hal inilah yang membuat bahasa verbal menjadi bahasa yang dapat menimbulkan ambiguitas. Seperti halnya berkata ‘Orang itu tampan’. Belum tentu orang lain menganggap bahwa orang itu tampan. Sehingga orang lain akan menganggap bahwa orang itu tampan sifat dan hatinya.

3. Kata Bias

Umumnya, kata-kata yang bias ini menyangkut soal budaya dari daerah tertentu. Seperti halnya suatu bahasa dari Jawa akan berbeda maknanya jika diartikan dalam bahasa Sunda. Contoh, orang mengatakan kata ‘gedhang’. Dalam bahasa Jawa, kata tersebut berarti ‘pisang’, sedangkan bahasa Sunda mengartikan bahwa kata itu adalah ‘pepaya’.

4. Percampuran Fakta

Komunikasi verbal dalam komunikasi bisnis ini sering terjadi percampuran fakta dan makna. Sehingga akan timbul pesan atau informasi yang baru dan bisa saja tidak sesuai dengan informasi atau pesan yang sebenarnya.

B. Komunikasi Non-Verbal

Komunikasi non verbal ini merupakan bentuk komunikasi yang berlangsung menggunakan bahasa tanda, simbol, dan tubuh. Namun, simbol atau tanda-tanda tersebut dapat memberikan pelukisan atau deskripsi apa yang disampaikan. Namun, komunikasi non verbal ini hanya bisa dilakukan secara lisan. Kecuali pada sandi morse yang merupakan bahasa non verbal, melainkan menggunakan metode tertulis

Perlu diperhatikan, bahwa kedua bentuk komunikasi tersebut memiliki hubungan yang erat dalam dunia bisnis, khususnya dalam komunikasi bisnis. Kedua bentuk tersebut akan saling menjalin dan melengkapi satu sama lain. Ketika bahasa verbal tidak bisa disampaikan, maka bahasa non verbal yang berperan, dan juga sebaliknya.

Tujuan Komunikasi Bisnis

Komunikasi bisnis yang baik, pastinya memiliki tujuan untuk pencapaian yang baik. Terdapat tiga tujuan pokok dalam komunikasi bisnis, di antaranya :

1. Informatif. Jika seorang komunikator tidak dapat memberikan informasi kepada komunikan, untuk apa ia berkomunikasi? Sehingga perlu adanya informasi yang diberikan kepada komunikan agar pesan dan tujuan komunikasi bisnis itu dapat tercapai.

2. Persuasif. Informasi yang berdifat persuasif ini adalah sama halnya mengendalikan tanggapan dari komunikan. Sehingga perlu adanya komunikator yang dapat mengendalikan tanggapan komunikan agar informasi dapat memberikan sugesti, sehingga komunikan mau mendengarkan dan memberikan tanggapan positif kepada komunikator mengenai pesan yang disampaikan.


Kolaboratif. Dalam penyampaian pesan, pastinya ada maksud di balik itu semua, yaitu kerjasama yang terjalin antara perusahaan dengan komunikan.



Referensi :

http://pakarkomunikasi.com/bentuk-komunikasi-bisnis

KOMUNIKASI BISNIS - KOMUNIKASI YANG EFEKTIF



Nama : Meiriza Alviyany // NPM : 16214550 // Kelas : 4EA26


Tulisan 1

News
Komunikasi Efektif Sebagai Ciri Polisi Humanis

Sabtu,04 Juni 2016 - 04:46:53 WIB
Reporter : Tim Redaksi
harianhaluan.com - Sir Robert Marks, mantan Kepala Kepolisian Inggris yang tersohor di era 1970-an mengatakan, seorang polisi di era modern seperti saat ini tidak lagi bersenjatakan water canon, gas air mata atau peluru karet. Senjata polisi hari ini seharusnya adalah simpati masyarakat. Namun, simpati masyarakat itu akan sulit didapat jika antara polisi dan masyarakat tak terbangun komunikasi yang hangat dan saling mendukung satu sama lain.
Paradigma baru Ke­po­li­sian Republik Indonesia (Pol­ri) berorientasi pada pe­me­cahan-pemecahan masalah (Problem Solver Oriented) yang ada di tengah masyarakat. Agar tugas dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya, tak pelak dibutuhkan hubungan mesra (kedekatan fisik dan non-fisik) yang ber­kesi­nam­bungan antara polisi dan masyarakat.
Polisi Humanis, hal itu yang selalu didengung-de­ngung­­kan dan dipercepat per­tum­buhannya di dalam ins­titusi Polri. Tentu saja, sia­pa pun polisinya pasti ingin dianggap polisi yang hu­ma­nis. Dan siapapun masya­ra­katnya pasti ingin memi­liki polisi yang huma­nis; polisi yang mudah diajak bicara; mudah dimintai pertolongan; dan mudah memberikan solusi atas permasalahan.
Contoh umum, sebe­lum polisi menjawab kelu­han atas permasalahan ma­syarakat dengan lang­sung bergerak ke lapa­ngan, di­­harapkan polisi dapat ter­le­bih dulu menga­wali sikap de­­ngan menyimak keluhan, men­­dengar dengan hati dan be­rusaha mene­nang­kan kere­sa­han yang dira­sakan masyara­kat.
Menuliskannya memang semudah itu, tapi butuh usaha keras dalam tataran praktik di lapangan.
Menurut Jalaluddin Rakh­mat dalam bukunya, Psi­ko­logi Komunikasi, komu­nikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, memengaruhi sikap, mening­katkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya me­nim­bulkan suatu tindakan yang baik pula.
Dari pengertian tersebut dapat kita sadari, dalam men­cip­takan komunikasi yang efektif antara polisi dan ma­sya­rakat, diperlukan saling pengertian. Bukan saja polisi yang harus mengerti masya­rakat, tapi masyarakat harus pula memahami dan mengerti pekerjaan seorang polisi.
Contoh kecil mengenai sa­ling pengertian: yaitu saat ma­syarakat sering bersentuhan de­ngan polisi pe­nga­tur lalu lin­tas. Nah, saat se­orang pe­ngen­­­dara te­lah nyata-nya­­­ta me­lang­­­gar atu­ran ber­ken­­da­­ra­an se­­hing­ga di­kenai ti­lang, maka tidak seharusnya pengendara itu berupaya me­nyogok polisi agar ‘masalah selesai di tempat’. Sikap ter­sebut menurut penulis cer­minan sikat tidak saling pe­nger­tian. Baik polisi maupun masyarakat dalam hal ini sama-sama tidak pengertian atas kapasitas masing-masing.
Jalaluddin juga menandai komunikasi yang baik dengan komunikasi yang menim­bul­kan kesenangan dan dapat saling memengaruhi sikap. Dikaitkan dengan contoh di atas, ketika seorang pengen­dara telah menyadari kesalahan dan menerima dengan legowo sanksi tilang yang dijatuhkan, polisi dan pengendara akan merasa sama-sama lepas dari beban, sehingga yang kemu­dian akan muncul adalah perubahan sikap.
Ke depannya, pengendara yang melanggar akan lebih berhati-hati dalam menaati peraturan berkendaraan. Po­lisi yang menilang pun akan lepas dari beban perasaan tidak melakukan tugas de­ngan baik, karena beban ini bisa saja dirasakan saat menerima sogokan-so­go­kan, yang se­be­nar­nya tidak seberapa dan terkesan me­le­cehkan ins­titusi Polri sendiri.
Terakhir, Jalaluddin me­nandai komunikasi yang efek­tif dengan meningkatnya hu­bungan sosial yang baik, yang kemudian diakhiri dengan tindakan yang baik pula. Ambil contoh saat polisi me­nengahi perkelahian antar warga. Dalam situasi seperti ini, polisi dituntut bisa bersi­kap netral dan menjalankan fungsi mediasi yang tidak berat sebelah.
Hal-hal kecil namun sa­ngat memengaruhi jalannya proses pendamaian dapat di­tempuh seorang polisi, seper­ti mendatangi kedua belah pihak, bercerita dan menam­pung uneg-uneg yang diluap­kan. Dan saat waktunya dirasa pas, polisi dapat menang­gapinya dengan hal-hal yang di luar konteks, seperti ber­cerita kasus perkelahian antar warga di tempat lain yang ti­dak menyisakan apa-apa se­la­in kerugian, atau mence­ri­takan sulitnya memper­satu­kan nu­san­tara, dan lain seba­gai­nya.
Tentu saja, cara-cara terse­but digunakan di waktu dan tempat khusus yang membuat masyarakat merasakan polisi adalah teman, bukan penga­man, seperti di pos ronda, ke­dai kopi dan lain sebagai­nya.
Jika hal-hal kecil seperti itu dilakukan, menurut Jala­lud­din, tentu hubungan sosial yang baik akan semakin me­ningkat, dan berujung kepada tindakan penyelesaian ma­salah yang ada dengan cepat, tanpa harus ada pihak yang merasa dirugikan.
Dengan adanya inte­raksi yang terus me­nerus tersebut, polisi ber­sama-sama masyarakat akan semakin mudah dalam men­cari jalan keluar atau me­nyelesaikan masalah sosial, terutama masalah keamanan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya interaksi yang terus menerus tersebut polisi akan bisa se­nantiasa berupaya untuk me­ngurangi rasa ketakutan ma­syarakat terhadap akan adanya gangguan kriminalitas.
Stephen Covey, penulis asal Amerika Serikat mene­gaskan, unsur yang paling penting dalam komunikasi bukan sekadar pada apa yang kita tulis dan kita katakan, tetapi lebih pada karakter kita dan bagaimana kita me­nyam­paikan pesan kepada pe­ne­rima pesan (tindakan).
Jika kata atau tindakan dibangun dari teknik hu­bungan yang dangkal (etika kepribadian), maka orang lain akan melihat atau mem­baca sikap kita. Jadi syarat utama dalam komunikasi efektif adalah karakter yang kokoh, yang dibangun dari pondasi integritas pribadi yang kuat.
Oleh karena itu, penting sekali bagi seorang polisi untuk memiliki kepribadian yang kuat di tengah masya­rakat, tentu saja kepribadian yang memberikan rasa aman dan nyaman. Sehingga, ma­sya­rakat akan membaca si­kap tersebut sebagai sikap yang berpihak, sikap yang humanis dan sikap yang ma­nis. Goal­nya, polisi akan se­ma­kin di­cin­tai ma­sya­ra­kat. (*)
KOMPOL ANDRIANTO ARGAMUDA, SIK
(Pasis Sespimen Dikreg ke-56)

Simpulan :
Salah satu hal yang menyebabkan banyak orang berselisih paham adalah kurangnya komunikasi. Komunikasi terkadang menjadi hal yang disepelekan, padahal kesalahan dalam komunikasi dapat menimbulkan permasalahan dalam hubungan dua atau lebih orang. Berdasarkan berita di atas, saya simpulkan bahwa simpati masyarakat itu akan sulit didapat jika antara masyarakat itu sendiri tidak terbangun komunikasi yang nyaman dan saling mendukung satu sama lain. Menurut Jalaluddin Rakh­mat dalam bukunya, Psi­ko­logi Komunikasi, komu­nikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, memengaruhi sikap, mening­katkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya me­nim­bulkan suatu tindakan yang baik pula. Dalam men­cip­takan komunikasi yang efektif antara polisi dan ma­sya­rakat, diperlukan saling pengertian diantara kedua pihak. Bukan saja polisi yang harus mengerti masya­rakat, tapi masyarakat harus pula memahami dan mengerti pekerjaan seorang polisi. Komunikasi yang efek­tif dengan meningkatnya hu­bungan sosial yang baik antar individu, pasti diakhiri dengan tindakan yang baik pula.

Referensi :
http://harianhaluan.com/news/detail/54946/komunikasi-efektif-sebagai-ciri-polisi-humanis