Nama : Meiriza
Alviyany // NPM : 16214550 // Kelas : 4EA26
Tulisan 1
News
Komunikasi Efektif Sebagai Ciri Polisi Humanis
Sabtu,04 Juni 2016 - 04:46:53 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Reporter : Tim Redaksi
harianhaluan.com - Sir Robert Marks, mantan Kepala
Kepolisian Inggris yang tersohor di era 1970-an mengatakan, seorang polisi di
era modern seperti saat ini tidak lagi bersenjatakan water canon, gas air mata
atau peluru karet. Senjata polisi hari ini seharusnya adalah simpati
masyarakat. Namun, simpati masyarakat itu akan sulit didapat jika antara polisi
dan masyarakat tak terbangun komunikasi yang hangat dan saling mendukung satu
sama lain.
Paradigma
baru Kepolisian Republik Indonesia (Polri) berorientasi pada pemecahan-pemecahan
masalah (Problem Solver Oriented) yang ada di tengah masyarakat. Agar tugas dapat terlaksana
dengan sebaik-baiknya, tak pelak dibutuhkan hubungan mesra (kedekatan fisik dan
non-fisik) yang berkesinambungan antara polisi dan masyarakat.
Polisi
Humanis, hal itu yang selalu didengung-dengungkan dan dipercepat pertumbuhannya
di dalam institusi Polri. Tentu saja, siapa pun polisinya pasti ingin
dianggap polisi yang humanis. Dan siapapun masyarakatnya pasti ingin memiliki
polisi yang humanis; polisi yang mudah diajak bicara; mudah dimintai
pertolongan; dan mudah memberikan solusi atas permasalahan.
Contoh
umum, sebelum polisi menjawab keluhan atas permasalahan masyarakat dengan
langsung bergerak ke lapangan, diharapkan polisi dapat terlebih dulu
mengawali sikap dengan menyimak keluhan, mendengar dengan hati dan berusaha
menenangkan keresahan yang dirasakan masyarakat.
Menuliskannya
memang semudah itu, tapi butuh usaha keras dalam tataran praktik di lapangan.
Menurut
Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya, Psikologi Komunikasi, komunikasi yang
efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan,
memengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya
menimbulkan suatu tindakan yang baik pula.
Dari
pengertian tersebut dapat kita sadari, dalam menciptakan komunikasi yang
efektif antara polisi dan masyarakat, diperlukan saling pengertian. Bukan
saja polisi yang harus mengerti masyarakat, tapi masyarakat harus pula
memahami dan mengerti pekerjaan seorang polisi.
Contoh
kecil mengenai saling pengertian: yaitu saat masyarakat sering bersentuhan dengan
polisi pengatur lalu lintas. Nah, saat seorang pengendara telah
nyata-nyata melanggar aturan berkendaraan sehingga dikenai tilang,
maka tidak seharusnya pengendara itu berupaya menyogok polisi agar ‘masalah
selesai di tempat’. Sikap tersebut menurut penulis cerminan sikat tidak
saling pengertian. Baik polisi maupun masyarakat dalam hal ini sama-sama
tidak pengertian atas kapasitas masing-masing.
Jalaluddin
juga menandai komunikasi yang baik dengan komunikasi yang menimbulkan
kesenangan dan dapat saling memengaruhi sikap. Dikaitkan dengan contoh di atas,
ketika seorang pengendara telah menyadari kesalahan dan menerima dengan legowo
sanksi tilang yang dijatuhkan, polisi dan pengendara akan merasa sama-sama
lepas dari beban, sehingga yang kemudian akan muncul adalah perubahan sikap.
Ke
depannya, pengendara yang melanggar akan lebih berhati-hati dalam menaati
peraturan berkendaraan. Polisi yang menilang pun akan lepas dari beban
perasaan tidak melakukan tugas dengan baik, karena beban ini bisa saja
dirasakan saat menerima sogokan-sogokan, yang sebenarnya tidak seberapa
dan terkesan melecehkan institusi Polri sendiri.
Terakhir,
Jalaluddin menandai komunikasi yang efektif dengan meningkatnya hubungan
sosial yang baik, yang kemudian diakhiri dengan tindakan yang baik pula. Ambil
contoh saat polisi menengahi perkelahian antar warga. Dalam situasi seperti
ini, polisi dituntut bisa bersikap netral dan menjalankan fungsi mediasi yang
tidak berat sebelah.
Hal-hal
kecil namun sangat memengaruhi jalannya proses pendamaian dapat ditempuh
seorang polisi, seperti mendatangi kedua belah pihak, bercerita dan menampung
uneg-uneg yang diluapkan. Dan saat waktunya dirasa pas, polisi dapat menanggapinya
dengan hal-hal yang di luar konteks, seperti bercerita kasus perkelahian antar
warga di tempat lain yang tidak menyisakan apa-apa selain kerugian, atau
menceritakan sulitnya mempersatukan nusantara, dan lain sebagainya.
Tentu
saja, cara-cara tersebut digunakan di waktu dan tempat khusus yang membuat
masyarakat merasakan polisi adalah teman, bukan pengaman, seperti di pos
ronda, kedai kopi dan lain sebagainya.
Jika
hal-hal kecil seperti itu dilakukan, menurut Jalaluddin, tentu hubungan
sosial yang baik akan semakin meningkat, dan berujung kepada tindakan
penyelesaian masalah yang ada dengan cepat, tanpa harus ada pihak yang merasa
dirugikan.
Dengan
adanya interaksi yang terus menerus tersebut, polisi bersama-sama masyarakat
akan semakin mudah dalam mencari jalan keluar atau menyelesaikan masalah
sosial, terutama masalah keamanan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Dengan adanya interaksi yang terus menerus tersebut polisi akan bisa senantiasa
berupaya untuk mengurangi rasa ketakutan masyarakat terhadap akan adanya
gangguan kriminalitas.
Stephen
Covey, penulis asal Amerika Serikat menegaskan, unsur yang paling penting
dalam komunikasi bukan sekadar pada apa yang kita tulis dan kita katakan,
tetapi lebih pada karakter kita dan bagaimana kita menyampaikan pesan kepada
penerima pesan (tindakan).
Jika
kata atau tindakan dibangun dari teknik hubungan yang dangkal (etika
kepribadian), maka orang lain akan melihat atau membaca sikap kita. Jadi
syarat utama dalam komunikasi efektif adalah karakter yang kokoh, yang dibangun
dari pondasi integritas pribadi yang kuat.
Oleh
karena itu, penting sekali bagi seorang polisi untuk memiliki kepribadian yang
kuat di tengah masyarakat, tentu saja kepribadian yang memberikan rasa aman
dan nyaman. Sehingga, masyarakat akan membaca sikap tersebut sebagai sikap
yang berpihak, sikap yang humanis dan sikap yang manis. Goalnya, polisi akan
semakin dicintai masyarakat. (*)
KOMPOL ANDRIANTO ARGAMUDA, SIK
(Pasis Sespimen Dikreg ke-56)
(Pasis Sespimen Dikreg ke-56)
Simpulan :
Salah satu hal yang menyebabkan
banyak orang berselisih paham adalah kurangnya komunikasi. Komunikasi terkadang
menjadi hal yang disepelekan, padahal kesalahan dalam komunikasi dapat
menimbulkan permasalahan dalam hubungan dua atau lebih orang. Berdasarkan
berita di atas, saya simpulkan bahwa simpati masyarakat itu akan sulit didapat jika antara
masyarakat itu sendiri tidak terbangun komunikasi yang nyaman dan saling
mendukung satu sama lain. Menurut Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya, Psikologi
Komunikasi, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat
menimbulkan kesenangan, memengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang
baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tindakan yang baik pula. Dalam menciptakan
komunikasi yang efektif antara polisi dan masyarakat, diperlukan saling
pengertian diantara kedua pihak. Bukan saja polisi yang harus mengerti masyarakat,
tapi masyarakat harus pula memahami dan mengerti pekerjaan seorang polisi. Komunikasi
yang efektif dengan meningkatnya hubungan sosial yang baik antar individu, pasti
diakhiri dengan tindakan yang baik pula.
Referensi :
http://harianhaluan.com/news/detail/54946/komunikasi-efektif-sebagai-ciri-polisi-humanis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar